assalamu'alaykum wr wb
sebenernya ini udah jadi draft lama banget dan baru sekarang aku bergairah posting
Malam sebelum UTS matematika sebenernya aku nggak konsen banget. Kenapa? Soalnya aku dihantui suatu perasaan buruk. Astaghfirllah… aduh stress banget aku.
sebenernya ini udah jadi draft lama banget dan baru sekarang aku bergairah posting
Malam sebelum UTS matematika sebenernya aku nggak konsen banget. Kenapa? Soalnya aku dihantui suatu perasaan buruk. Astaghfirllah… aduh stress banget aku.
Ceritane ngene kiy,
Aku punya seorang teman… teman baik. Sangat baik. Dia selalu menjaga perasaanku. Ya meskipun kalau pas nggak sengaja bisa atos nya nggak karuan. tapi Aku sayang banget deh sama temen baik ku satu ini..
Tapi satu hal yang aku sungguh nggak tahu harus menjelaskan seperti apa.
Tiap aku berambisi mencapai langit, dia pun punya ambisi yang sama. Dan akhirnya? Dia mampu mencapai langit dan aku tidak.
Tiap aku berkeinginan menggapai bulan, dia pun punya keinginan yang sama. Persis. Dan akhirnya? Dia mampu menggapai bulan dan aku tidak.
Apa? Aku kurang usaha?? Sayang banget. Nggak ada yang perlu diusahakan. Mungkin usahaku lebih dari cukup. Sama kayak dia. Tapi? Tapi doaku kayaknya kurang… yaaah.. nggak apa deh. Aku akan lebih giat berdoa. Wallahu a’lam
Nah jadi apa yang harus aku lakukan?
Jadi gini, masalah terbesarnya adalah, dia dan aku punya obsesi yang sama!! Kami berobsesi masuk ke sebuah universitas. Sama. Universitas yang sama. Gimana aku nggak kalut eh?
Ya ampun aku jahiliyyah banget ya? Percaya hal-hal berpola kayak gitu.. padahal nggak ada yang nggak mungkin kalau Allah SWT berkehendak. masalahnya aku nggak tahu lagi harus gimana. Aku merasa… alah mbuh!
Selama ini aku kalah. Selalu. Telak.
Masalahnya kalau dia temanku yang lain, ya whatever sih. Tapi dia teman baikku. Kami sering bertukar obsesi, bertukar keinginan, dan biasanya memang selalu sama. Tapi selalu pada akhirnya dia bercerita keinginan kami yang ia capai itu dan aku mendengarkan sambil ingin menangis. Sungguh miris. Ironi.
Aaaaaaaaaaaa……!! Piye iki!
Dan aku selalu berusaha menyembunyikan kepedihanku dari dia. Karena dia juga selalu berusaha menjaga perasaanku. Kurang baik apa sih dia?
Siapa yang tega membenci orang sebaik dia? Jadi, mau nggak mau, rela nggak rela, aku harus ikhlas. Harus. Ini yang sulit. Apalagi kalau dia lagi cerita tentang hal apa yang dia dapatkan (dan aku nggak) itu. Ya ampun miris. Sungguh. Tapi aku bakal usaha sebaik mungkin biar aku nggak bikin dia nggak enak. Biar dia tetep nyaman sama aku. Meski berat.
Dan masalah universitas, ah yang ini aku nggak tau apa aku siap menghadapi kenyataan kalau takdir mengatakan aku harus tersenyum pahit. Akademisnya temenku itu selama ini bagus banget. Nggak kayak aku. Kalau dia juga nggak diterima sih rasanya cuma sakit dikit, tapi kalau dia keterima itu lhoo.. aku bakal nyesek. Ya ampun aku jahat banget kan?? bayangin deh, aku sedih akan kebahagiaan temanku. iya aku tahu aku jahat, aku suka iri, dan mungkin itu yang bikin aku belum bisa dapat kan istanaku, impianku..
Jujur, mauku sih kita lolos seleksi univ itu berdua.. kan asik ya? :D aamiiiiin
Tapi aku punya pikiran positive, mungkin aku nggak bisa mencapai langit dan menggapai bulan seperti apa yang bisa dia lakukan karena Mungkin aku selalu kalah agar siap menggapai kemenangan yang lebih besar. Agregat! :)
Tapi aku juga punya pikiran negative. Mungkin aku nggak bisa mencapai langit dan menggapai bulan seperti apa yang bisa dia lakukan karena aku harus ancang-ancang dan latihan ikhlas. Ikhlas menghadapi kekalahan yang lebih besar! Agregat! :’(
Ah. Kita nggak boleh berprasangka buruk. Yakin kalau Allah never sleeps! Yakin! Yakin!!!
Oke mungkin aku jahat banget sama temenku itu. Tapi aku maunya juga nggak gitu. Oke dirubah aja. Semoga apa yang kita berdua inginkan tercapai. Eh nggak dink! Ganti! Semoga kami mendapatkan apa yang terbaik. Aamiiiiin
Okay aku siap granat ikhlas. Toh, udah biasa.
Aku harap nanti kalau aku nggak bisa mencapai imipian itu dan temanku itu bisa, semoga dia nggak cerita tentang impian yang itu yaa… kalau cerita juga nggak apa sih sebenernya… aku janji selalu siap buat jadi tadah tangisnya dia.
Apapun yang terjadi, I love her. (andai dia tahu)
Komentar
Posting Komentar